Jum. Apr 10th, 2020

SBMI

Memperjuangkan Keadilan Bagi Buruh Migran

WARSIT DPRD BLORA MENOLAK DICEK CORONA KARENA BUKAN TKW


Seorang buruh migran Hongkong menasehati anggota DPRD Kabupaten Blora. Nasihat itu disampaikan kepada HM WARSIT yang menolak pemeriksaan suhu tubuh dalam rangka pencegahan virus Corona.

Nasohat itu disampaikan oleh Judi melalui surat terbuka di akun Facebooknya.  Judi menyesalkan alasan penolakan anggota DPRD itu dengan dalih bukan gembala, bukan TKW. Seolah gembala dan TKW itu adalah penyebar virus Corona.

Berikut, adalah surat terbuka yang disampaikan oleh Judy.

Kepada Yang Terhormat Bapak HM Warsit.

Semoga Bapak senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat.

Perkenalkan saya Judy, Pekerja Migran Indonesia (PMI) Hong Kong asal Cilacap ingin mengucap salam perkenalan sekaligus ucapan bela sungkawa atas matinya rasa simpati dan empati Bapak terhadap bencana nasional Covid 19.

Bapak yang terhormat, saya ingin mengomentari luapan emosi Bapak terhadap para petugas DKK yang mencoba melakukan prosedur pencegahan Covid 19 kepada Bapak dan rombongan.

Secara pemahaman saya yang “hanya” seorang TKW (istilah yang Bapak gunakan meski menurut UU Perburuhan telah berganti nama menjadi PMI, dalam hal ini mungkin Bapak kurang update, saya maklumkan), mungkin Bapak merasa “tidak layak” mendapat perlakuan seperti itu karena Bapak adalah seorang Pejabat Negara setara dengan Bupati ( seperti yang Bapak teriakkan) sehingga Bapak “pantas” untuk mendapatkan “perlakuan istimewa”.

Begini Bapak, penanganan Covid 19 sejauh yang saya ketahui adalah SAMA. Baik di Indonesia maupun negara manapun yaitu TIDAK MEMANDANG STATUS, JABATAN DAN KASTA…!!! Sampai disini saya berharap Bapak sudah paham.

Yang ingin saya soroti adalah statement Bapak yang mengatakan bahwa BUKAN TKW… BUKAN TERORIS… Jujur Bapak, kalimat Bapak sangat tidak enak kami dengarkan.

Apabila Bapak merasa bahwa SOP yang dilakukan oleh DKK tidak tepat, saya rasa Bapak bisa mengatakannya dengan baik tanpa harus teriak teriak dan tanpa harus menyebut profesi kami.

Apa yang salah dengan TKW??? Begitu burukkah TKW dimata Bapak? Sehingga Bapak telah mendeskreditkan dan mendiskriminasikan TKW sedemikian rupa? Bahkan Bapak samakan kami dengan TERORIS…!!! Sehingga menurut Bapak, yang wajib dicek hanya TKI dan Teroris saja sedangkan Bapak tidak perlu…!!!

Bapak yang terhormat, mungkin Bapak lupa kalau Bapak dipilih oleh rakyat, dan bekerja untuk rakyat bahkan digaji oleh rakyat. Dan diantara rakyat yang memilih Bapak kemungkinan ada yang berprofesi sebagai TKW. Setega itukah Bapak kepada kami????

TKW yang mungkin dalam mind set Bapak begitu rendah, yang Bapak identikkan dengan kaum sudra, orang tak berpendidikan, kaum gembala dan smua konotasi buruk lainnya…tapi Bapak lupa bahwa kami adalah PAHLAWAN DEVISA…penghasil devisa terbesar kedua setelah migas…

Bapak mungkin juga lupa bahwa dari devisa kami, mungkin disana ada anggaran untuk gaji Bapak sehingga Bapak bisa menafkahi keluarga Bapak dengan layak bahkan mungkin mewah. Hal yang bertolak belakang dengan kondisi kami sendiri. Tapi kami tak mengeluh pak karena kami sadar bahwa Tuhan berikan rejeki tidak pernah tertukar.

Mungkin Bapak juga lupa bahwa devisa kami mungkin saja digunakan oleh negara melalui APBDnya untuk pembangunan infrastruktur yang mungkin juga setiap hari Bapak gunakan, inftrastruktur yang kami sendiri hampir tak pernah menikmatinya. Tapi sekali lagi kami tak berkecil hati pak.

Bapak yang terhormat, cobalah Bapak buka sedikit saja naluri Bapak, apa yang salah dengan TKW??? Kami disini bekerja dengan penuh was was memikirkan kondisi keluarga kami di kampung, mengingat Covid 19 sudah mulai masuk ke kampung kampung. Sementara kami sendiri juga berjibaku dengan virus yang sama.

Bapak yang terhormat… Covid 19 tidak memilih pada siapa dia akan menyerang. Tak peduli TKW, Teroris, rakyat jelata, bahkan WaliKota dan Menteri pun bisa terinfeksi. Marilah Pak, buang pemikiran “kolot” Bapak bahwa Bapak bisa “kebal” terhadap Covid 19.

Bapak adalah panutan masyarakat, cobalah berikan contoh yang baik kepada warga Bapak. Apa yang akan terjadi pada keluarga Bapak, sanak saudara Bapak, tetangga Bapak, warga Blora dan warga Indonesia apabila salah satu dari rombongan Bapak atau mungkin anak istri dan keluarga yang “ikut” dalam rombongan kunjungan kerja tersebut (saya disini tidak paham apakah ada SOP yang menyatakan bahwa KunKer boleh diikuti oleh keluarga) ternyata terinfeksi?????

Cobalah sesekali Bapak belajar pada kami para PMI, dimana kami meski jauh dari Indonesia tapi simpati dan empati kami tak pernah padam. Kami akan bergerak bersama sama ketika negara kami tertimpa musibah TANPA kami diminta. Ini bukti bahwa jiwa nasionalisme, toleransi, solidaritas, simpati dan empati tak memandang PROFESI..!!

Covid 19 hanya bisa dikalahkan apabila kita BERSATU… Mari Pak bersama sama kita lawan virus ini dengan mematuhi anjuran yang diberikan oleh PRESIDEN.

Terakhir Bapak…. Mohon Bapak dan rombongan segera memeriksakan diri ke RSUD Cepu (karena semalam Bapak dan rombongan mangkir datang)….

Mohon maaf atas kelancangan saya yang “hanya” seorang TKW yang merasa kecil hati atas statement Bapak DPRD yang terhormat.

Doa saya semoga Bapak sehat selalu dan cobalah untuk sering sering membaca informasi penanganan Covid 19 di berbagai negara sebagai referensi bahwa penanganan Covid 19 TIDAK MEMANDANG KASTA DAN JABATAN..!!!

Salam Sehat dan Salam Santun,

Judy Houyai (Pekerja Migran Indonesia di HK)

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)