MANTAN BURUH MIGRAN, BERSERIKAT ITU ENJOY DAN NIKMAT

 


Sejak Januari 2020, Cabang Serikat Buruh Migran Indonesia mengadakan peningkatan kapasitas keorganisasian di desa-desa. Kegiatan ini bertujuan agar keluarga buruh migran lebih berdaya dalam menangani kasus-kasusnya.

Salah satu cara dalam penanganan kasus adalah model kroyokan. Kroyokan sebenarnya sudah sering dilakukan oleh masyarakat dalam konteks yang negatif, misalya tawuran. Kroyokan terbukti selalu dipakai cara untuk memenangkan.

Penanganan kasus buruh migran dalam serikat itu kurang lebih sama dengan model kroyokan. Pembedanya adalah dalam tawuran itu posisi salah, sementara dalam penanganan kasus buruh migran dalam posisi benar.

Buruh migran sering diintimidasi oleh para sponsor atau calo atau bahkan perusahaan penempatan. Mereka menggunakan preman, atau preman yang berbendera untuk menakut-nakuti buruh migran. Padahal jumlah mereka tidak banyak, tetapi buruh migran selalu dikalahkan, kenapa?

Karena tidak berserikat. Dengan berserikat, keluarga buruh migran dapat meneroyok orang yang akan merugikan. Karena dengan berserikat, jumlah anggotanya banyak. Meskipun awalnya takut, karena banyakan maka jadi berani. Ngomong juga jadi lantang, tidak gerogi.

Berserikat juga menjadi alat atau wadah berbagi informasi. Pengetahuan orang berbeda-beda, dengan berserikat informasi itu jadi lebih lengkap. Dengan berserikat kerja juga lebih ringan, karena ada pembagian. Orang pertama mengerjakan apa, orang kedua mengerjakan apa, orang ketiga mengerjakan apa. Semua pekerjaan dibagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *