Sab. Feb 29th, 2020

SBMI

Memperjuangkan Keadilan Bagi Buruh Migran

SBMI berpartisipasi dalam NPAC Meeting Tahun 2019

Serikat Buruh Migran Indonesia berpartisipasi dalam acara National Programme Advisory Committee (NPAC) Meeting Tahunan, yang diselenggarakan oleh UN Women dan ILO, bertempat di Hotel Le Meridien Jakarta, pada 10 Desember 2019.

Serikat Buruh Migran Indonesia berpartisipasi dalam acara National Programme Advisory Committee (NPAC) Meeting Tahunan, yang diselenggarakan oleh UN Women dan ILO, bertempat di Hotel Le Meridien Jakarta, pada 10 Desember 2019.

Adapun tujuan dari kegiatan tersebut adalah agar buruh migran perempuan dan keluarganya  lebih terlindungi oleh tata kelola dan layanan migrasi tenaga kerja yang responsif gender, mengurangi kerentanan perempuan pekerja migran dari bentuk kekerasan dan perdagangan orang, serta memperoleh manfaat dari layanan responsif yang berkualitas dan terkoordinasi serta agar meningkatnya ketersediaan data, pengetahuan, sikap terkait hak dan kontribusi buruh migran perempuan.

Acara yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, diawali dengan sambutan-sambutan yang disampaikan oleh perwakilan dari beberapa lembaga, antara lain:

  • Mr. Hans Farnhammer First Counsellor, Head of Development Section European Union Delegation of The European Union to Indonesia and Brunei Darussalam; 
  • Mrs. Michiko Miyamoto, Director ILO Country Office for Indonesia and Timor Leste; 
  • Mr. Jamshed Kazi, UN Women Indonesia Representative and Liaison to ASEAN;
  • Drs. Rafail Walangitan, M.A. Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Ketenagakerjaan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; 
  • Perwakilan Kementerian Ketenagakerjaan;

Dalam sambutannya, kelima lembaga tersebut sepakat untuk meningkatkan layanan dan tata kelola penempatan buruh migran perempuan guna mengurangi resiko kekerasan terhadap perempuan dan tindak pidana perdagangan orang. Layanan ini harus dilaksanakan dengan terkoordinasi dan terintegrasi antara pemerintah daerah dan pusat, serta kerjasama dari masyarakat dan stakeholder terkait.

Dalam kegiatan ini, peserta juga melakukan diskusi dan presentasi untuk rencana kerja selama 1 tahun di tahun 2020.

Dina Nuriyati Koordinator Riset dan Hubungan Internasional, Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), menjelaskan bahwa sebelum adanya program Safe and Fair ini, SBMI sejak awal berdiri hingga saat ini, selalu memperjuangkan hak-hak buruh migran, yang mayoritas adalah perempuan. “Dalam program Safe and Fair ini, SBMI merupakan salah satu mitra dari ILO. Namun, terlepas dari program… ILO membuat inisiatif ini ataupun tidak, ini sudah menjadi kerangka kerja SBMI untuk mewujudkan perlindungan hak-hak buruh migran. Yang menjadi agenda saat ini adalah bagaimana perlindungan ini dimulai dari desa. Soal buruh migran kan tidak hanya pisah-pisah urusannya. Ada pihak lain yang dilibatkan atau memang terlibat menjadi penanggung jawab maupun menjadi pelaksana. Sehingga proses ini merancang ke depan apa yang bisa dilakukan. Itu menjadi hal yang penting.

“Dengan adanya program Safe and Fair, SBMI berharap ke depan isu gender bisa tersosialisasikan dengan baik dan juga stigma negatif  terhadap perempuan BMI dapat teratasi. Dan juga dalam anggota NPAC saling bersinergi dalam perlindungan perempuan BMI,” harap Salsa Novelia Franisa, caseworkers SBMI.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)