KABUPATEN INDRAMAYU DARURAT PERDAGANGAN ORANG KE IRAK

KORBAN TRAFFICKING INDRAMAYUKabupaten Indramayu dinyatakan darurat perdagangan orang ke Irak. Pemerintah Desa, Pemkab Indramayu, Pemprov Jawa Barat dan Pemerintah Pusat dituntut agar mewaspadai para calo yang biasa merekrut calon buruh migran. Pasalnya sejumlah buruh migran yang saat ini bekerja di Irak mengaku tertipu dengan rayuan maut para calo dan jaringan mafia perdagangan orang yang berpusat di Perumahan Gobel Depok dan Condet Jakarta Timur. Demikian disampaikan oleh Juwarih Ketua SBMI Indramayu di sekretariatnya, pada saat menerima pengaduan dari keluarga korban (16/11/2016).

Kepada SBMI Indramayu, Kasman warga  Desa Sukadana Kecamatan Tukdana Kabupaten Indramayu mengadukan jika istrinya yang bernama Lina Binti Carlim Warlan yang diterbangkan pada bulan November 2014 itu mengalami perbudakan. Agency penyalur di Irak menjualnya kepada calon majikan sebesar USD 5.000. Masa kerjanya sangat panjang dari pagi hingga jam 12 malam. Setiap meminta gaji, ia malah dikasih bogem, majikan juga sangat kurang ajar karena memaksa untuk berhubungan badan.

“Majikan juga pernah mendorong istri saya dari tangga lantai 2 hingga jatuh ke lantai satu. Akibatnya sebagian tubuhnya mengalami sakit” Ungkapnya. 

Setelah bekerja selama 18 bulan, Lina dijual lagi kepada majikan kedua bernama Ahmed Fyadh seharga USD 5000. Dalam kondisi sakit seperti itu, Lina tetap disuruh bekerja. Bahkan pekerjaannya makin berat karena harus mengurus tiga rumah besar.

Selain itu, hak atas komunikasinya tidak dienuhi, karena tidak diperbolehkan oleh majikan.

“Lina pernah minta dipulangkan karena sudah tidak kuat, tetapi majikan memarahinya dan meminta ganti rugi sebesar USD 5.000,” tambahnya.

Menurut Juwarih Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Kabupaten Indramayu, mengungkap adanya jaringan mafia perdagangan orang yang sebelumnya berprofesi sebagai calo. Jaringan ini cukup besar hingga ke desa-desa.

“Berdasarkan informasi dari para korban, saat ini ada ratusan warga Indramayu dan Cirebon direkrut ke negara yang sedang sibuk perang itu. Korban dibohongi akan dipekerjakan di Erbil yang dikatakannya sebagai sebuah negara maju seperti Inggris, ternyata Erbil adalah salah satu kota di Negara Irak yang berdekatan dengan Turki. Dari Turki para korban di kirim ke Baghdad” Jelasnya 

Maraknya perdagangan orang ke Irak tidak lepas dari dosa para pejabat Pemerintah Kabupaten yang saat ini sedang sibuk berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi.  

“Padahal untuk mencegah perdagangan orang, bikin saja poster-poster larangan ke Timur Tengah, sebar ke desa-desa, itu anggarannya gak sampai 500 juta.” Pungkasnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *