SBMI MENELITI MIGRASI KE MALAYSIA, DAMPAK DAN PENYEBABNYA

potret keluarga TKI Lombok TimurSBMI sedang melaksanakan penelitian tentang keluarga buruh migrant di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Penelitian ini merupakan kerja sama antara SBMI dan Universitas Malaya, Malaysia. Penelitian akan berlangsung sekitar 3 bulan, dari Maret hingga Mei 2016.

Pada proses penelitian pengurus SBMI Lombok Timur akan melibatkan keluarga buruh migrant di 4 desa sebagai responden, yakni Desa Surabaya Utara dan Lepak Timur, Kecamatan Sakra Timur, Desa Sakra Selatan, Kecamatan Sakra, dan desa Montong Betok, Kecamatan Montong Gading.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui situasi keluarga Tenaga Kerja Indonesia (TKI/BMI) yang bekerja Malaysia, dari sisi tingkat keberhasilan serta faktor yang menjadi motivasi mereka bekerja di Malaysia, hingga kondisi kelurga yang ditinggalkan di kampong halaman.

“Kami berharap dari penelitian ini, SBMI Lombok Timur bisa melacak berbagai temuan terkait motivasi serta kondisi warga Lombok Timur yang bekerja di Malaysia. Hasil penelitian dapat dijadikan bahan bagi SBMI Lombok Timur untuk advokasi perbaikan kebijakan perlindungan terhadap warganya yang menjadi BMI. Selain Lombok Timur, penelitian juga kami lakukan di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur,” tutur Dina Nuriyati, Koordinator Divisi Riset dan Hubungan Luar Negeri DPN SBMI pada 30/4/2016.

Penelitian ini mulai dilakukan pada Senin 27 April 2016. Para anggota SBMI Lombok Timur mulai melakukan wawancara dan survei selama lima hari di empat desa. Dari wawancara ditemukan rata-rata migrasi terjadi karena faktor ekonomi, hutang, tidak adanya pekerjaan yang tetap untuk menghidupi keluarga, untuk membiayai sekolah anak, dan masih ditemukan banyak warga menjadi TKI hanya untuk membangun rumah.

Menurut Usman, Ketua SBMI Lombok Timur, sebelum keluarga diwawancarai, terlebih dahulu Ridwan Yudi, pegiat SBMI di Malaysia mewawancarai para TKI asal Lombok Timur. Metode ini dilakukan untuk menggali informasi secara rinci dari kedua belah pihak, baik TKI maupun keluarga yang ditinggalkan. SBMI Lombok Timur berharap dari penelitian ini akan muncul beberapa rekomendasi untuk pemerintah daerah agar lebih memperhatikan nasib masyarakat Lombok Timur yang bekerja di luar negeri. Sehingga ke depan Pemerintah Daerah maupun pusat lebih meningkatkan perlindungan, pemberdayaan, dan kesejahteraan TKI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *