BURUH MIGRAN DI MALAYSIA DIHANTUI RAZIA

Suasana kegiatan pendidikan pengorganisasian di negara penempatan MalaysiaSelama dua hari dari tanggal 6-7 September 2014, DPN SBMI mengadakan kegiatan pendidikan pengorganisasian bagi buruh migran dinegara penempatan Malaysia. Kegiatan ini merupakan serangkaian dari kegiatan pembuatan modul pendidikan yang disupport oleh Yayasan Tifa.

Kegiatan pendidikan pengorganisasian ini dilaksanakan di kontrakan salah seorang mahasiswa Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) tidak jauh dari terminal bus Kajang, kota kecil yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kualalumpur. Para peserta adalah buruh migran Indonesia dari beberapa sektor pekerjaan yang tinggal disekitar Kualalumpur. Mereka bekerja sebagai PRT, juru masak di kedai, kuli bangunan, taman kanak-kanak dan pijat penyembuhan. 

Meski tidak terlalu mengejutkan, suasana sebenarnya terasa lebih mencekam ketika para peserta mengungkapkan pengalaman yang terjadi di negara jiran itu. Berdasarkan pengakuan dari para peserta pelatihan, Polisi Diraja Malaysia  (PDM) adalah makhluk yang paling menakutkan. Selain sangat kejam juga mata duitan. Pengalaman Wiwik menunjukkkan bahwa meskipun dokumen lengkap, mereka tetap menangkap tanpa diperbolehkan melakukan pembelaan diri.

“Selama 10 hari saya ditahan di Penjara Pineng bersama ratusan Warga Negara Indonesia, India, dan Bangladesh. Kata-kata dan perlakuan kasar adalah makanan sehari-hari, dipanggil anjing babi, ditelanjangi, ditendang dipukul itu sudah biasa, padahal saya punya permit, dia bilang ini hukum kami bukan hukum negaramu”. Paparnya

pendidikan pengorganisasian buruh migran di malaysiaMaya Tampubolon menambahkan bahwa dirinya sering dipalakin uang oleh polisi, akhirnya dari pada ditangkap, atau dibawa muter-muter dengan mobil patroli atau dipenjara, ia terpaksa merelakan uang gajinya sebesar 100 Ringgit (sekitar 370 ribu rupiah). 

“Mereka terlatih membedakan mana warga indonesia dengan lainnya, maana yang legal dan tidak legal, kalau sudah ketemu dia memanggil sambil mengisyaratkan jari tangannya untuk mendekat, disitulah terjadi pemalakan” Katanya

Hal senada dikatakan oleh Lasmi asal Belawan Sumatera, ia mengatakan selain ditindas oleh aparat, warga Malaysia juga memanfaatkan situasi ketakutan itu untuk memperbudak.

“Saya kerja tidak digaji, akhirnya kabur dan tidak punya dokumen, atas bantuan teman akhirnya saya bekerja lagi tapi gajinya kecil, majikan mengatakan daripada kamu ketangkap, lebih baik kamu kerja sama saya”. Kata dia menirukan ucapan majikannya.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh pemerintah, jumlah buruh migran Indoensia di Malaysia jumlahnya mencapai 2,5 juta orang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *