ICE BREAKING KURANGI KEJENUHAN DALAM PELATIHAN

Untuk mengurangi kejenuhan dalam sebuah pelice breaking try out modul pendidikan lanjutan di banyuwangiatihan, ice breaking ternyata mampu mengembalikan suasana lebih enak,  tidak ngantuk dan pada akhirnya suasana pelatihan menjadi hidup dan lebih segar.

Menurut Yudi koordinator pelatihan try out modul pendidikan bagi buruh migran, dalam setiap kegiatan pelatihan SBMI, ada saja ide kreatif peserta untuk menyegarkan suasana dalam ragam bentuk ice breaking. Sebagai contoh pengenaan sanksi bagi peserta yang melanggar aturan yang telah disepakati. Pelanggar harus melakukan perintah dari peserta lainnya yang ditulis dalam kertas yang sudah digulung layaknya arisan.

“Ketika gulungan kertas itu berisi perintah untuk menyanyi atau bercerita lucu, maka pertunjukan tersebut  mampu menghidupkan suasana. Kontan gelak tawapun memenuhi ruangan” Katanya disela kegiatan yang dilaksanakan di Sekretariat SBMI Banyuwangi (9/5/2014).

Diteruskan, bentuk ice breaker lainnya adalah bermain sulap layaknya magician yang mampu menebak angka akhir yang dipilih peserta sama dengan pilihannya. Seperti yang dilakukan oleh Bobi AM dan Didin dalam permainan tebak angka yang dimainkan secara pastisipatif. Pada permainan ini peserta diminta menyebutkan angka dan ditulis oleh  dari 0 sampai dengan 9, lalu peserta diminta memilih lima angka, kemudian memilih tiga angka sisanya, hingga memilih salah satu dua angka terakhir. Meski partisipatif pada akhirnya angka terakhir yang dipilih peserta sama dengan yang angka yang sudah ditulis terlebih dahulu oleh ice breaker sehingga membuat para peserta terperangah.

Jiatiningsih menambahkan ada juga permainan-permainan dalam bentuk simulasi yang medekatkan pada materi yang sedang didiskusikan seperti permainan sembunyi barang. Permainan ini diutamakan dilakukan ditempat yang agak luas. Caranya adalah fasilitator memberikan perintah kepada seluruh peserta untuk menyembunyikan barang yang dimiliki tanpa diketahui oleh temannya. Intruksi kedua fasilitator membagi peserta menjadi beberapa kelompok. Intruksi ketiga masing-masing peserta dalam kelompok bergandengan lengan tangan dan tidak boleh dilepaskan, setelah itu kelompok ditugaskan untuk mengambil barang yang telah dikembalikan tadi.

“Alhasil dari permainan ini ditemukan pembelajaran yang mudah difahami oleh peserta misalnya, team work yang baik mengharuskan perencanaan kelompok, komunikasi antar anggota kelompok, tidak boleh mengedepankan kepentingan individu anggota dalam kelompok, ada menejemen kelompok, kemudian dengan refleks kelompok juga membutuhkan leader atau ketua sebagai komando, dari praktik itu juga ditemukan bahwa kelompok yang memiliki perencanaan dan terorganisir dengan baik mampu menyelesaikan tugasnya lebih cepat” Papar Ketua SBMI Jawa Timur.

Video live streaming klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *