KAMI SAYANG EGA

Fotor ega2Kasus kekerasan yang dialami Ega Prilia, anak buruh migran berusia delapan tahun dari Tanjung Pura Langkat, membuka tabir baru dan kompleksnya dampak migrasi keluar negeri. Ega yang seharusnya mendapatkan kasih sayang justru mendapatkan kekerasan pisik dari bapak kandungnya sendiri hingga babak belur.

Erna Murniaty Ketua Umum SBMI mengatakan bahwa apapun yang melatar belakanginya, perbuatan tersebut sangat biadab. “peristiwa ini harus menjadi perhatian bersama, bahwa perlindungan anak buruh migran sangat penting, peran ibu sebagai pengasuh anak tidak bisa tergantikan, itu juga penting karena ibu adalah pendidikan dini bagi anaknya” Paparnya

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa dalam konteks buruh migran ada beberapa persoalan anak yang menjadi perhatian semua pihak. Pertama adalah anak sebagai korban tindak pidana perdagangan orang (human trafficking), kedua abnak yang ditinggalkan oleh ibunya yang menjadi buruh migran dan ketiga adalah anak yang dilahirkan dari kekerasan seksual yang dialami oleh buruh migran. “Kasus Ega masuk dalam kelompok kedua, dampaknya ada hambatan perkembangan psikis ketika diasuh oleh bapaknya atau kakek neneknya, meskipun ini tidak bisa digeneralisir” Jelasnya

Contoh kongkrit yang terjadi misalnya, anak-anak sering diomeli oleh nenek pengasuhnya karena kebiasaan anak yang aktif bergerak, sementara neneknya karena faktor usia sudah pasif bergerak. “dari peristiwa ini saja sudah cukup memicu konflik, belum lagi misalnya ketika kiriman dari orang tuanya macet, ini juga memunculkan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak”. tambahnya

Erna berharap peristiwa ini tidak dialami oleh jutaan anak buruh migran lainnya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *